Selamat Datang di Notebook Sharie

Selasa, 14 Februari 2017

#BBI Share The Love 2017: Rahasia Kecintaan Raafi terhadap Membaca



Happy Valentine's Day and International Book Giving Day,


Hari ini spesial banget loh, selain ada dua peringatan di hari yang sama, hari ini blogku kedatangan special guest, seorang blogger kece yang sudah tak asing lagi di dunia persilatan pebukuan. Hayo... tebak siapa dia?*siul-siul*

Yupz, dia adalah Abduraafi Andrian, atau biasa kupanggil kak Raafi. Semakin terasa spesial karna kali ini kak Raafi tak keberatan "membocorkan" sejarah kecintaannya akan membaca. Mungkin sebelumnya, hanya orang-orang terdekatnya dan pasangannya saja yang mengetahui, namun hari ini kalian semua akan mengetahuinya termasuk diriku. 

Kesempatan langka ini kudapat karna mengikuti event BBI yang diberi nama BBI Share Love 2017. Ini adalah event perdana yang aku ikuti sejak aku bergabung dengan BBI awal tahun ini, yupz aku memang masih newbie.  Selain untuk memperingati Valentine's Day and International Book Giving Day, #BBIShareLove2017 ini bertujuan untuk saling mengenal antar anggota BBI. Seperti pepatah, "tak kenal maka tak sayang". #lho

Yuk, intip curcol'an Kak Raafi akan kecintaannya terhadap membaca. 

Aku pernah diceritakan oleh ibuku bahwa aku amat gemar membaca saat masih kecil. Beliau bilang kalau aku lebih cepat beberapa waktu dalam mengerti sebuah bacaan. Pada umur tiga tahun, ketika kakekku mengajak ke pasar, aku selalu memintanya berhenti sejenak karena aku sedang berlatih membaca kata-kata yang tertera pada spanduk, baliho, bahkan stiker yang tersebar tak keruan di sana. Saat memasuki TK, aku sempat menuliskan surat kepada kakekku menggunakan huruf sambung dan beliau menyimpannya sampai aku beranjak remaja. Saat memberitahukan surat tersebut kepadaku, beliau bilang kalau hasil tulisan sambungku bagus. Aku kagum.

Bicara tentang cinta baca, aku harus bilang kalau masa kecilku tidak terlalu berdekatan dengan buku. Ya, aku sudah bisa baca kala anak-anak lain seumuranku belum bisa. Tapi, aku hidup di lingkungan yang tidak memberikan akses membaca lebih banyak. Boro-boro baca, memegang buku saja seperti memegang senapan. Berat. Mengerikan. Sekali-kali saja. Bahan bacaan yang ada di rumah kala itu mungkin hanya buku pelajaran dan koran-koran yang dibawa ayah ketika pulang ke rumah. Aku dan teman-teman di TK diberikan buku "Totto-Chan: Si Gadis Cilik di Tepi Jendela" karya Tetsuko Kuroyanagi. Saat itu aku belum tahu kalau buku itu seharusnya untuk ayah dan ibuku. Tapi karena tidak ada bahan bacaan lain, aku membacanya bahkan berkali-kali walaupun tidak mengerti isinya sama sekali.

Saat SMA, aku sempat patungan untuk membeli sebuah buku bersama seorang teman sekelas. Kami berlagak membeli buku via online untuk pertama kalinya. Kami ke warnet untuk melakukan transaksi. Kami pergi ke bank untuk transfer uang yang sudah kami kumpulkan. Kami menunggu beberapa waktu sampai akhirnya buku tersebut tiba. Kami membacanya bergantian. Buku itu berjudul "Nibiru dan Kesatria Atlantis" karya Tasaro GK. Kami senang dengan pencapaian tersebut. Kuharap temanku masih menyimpan dan menjaga bukunya baik-baik.

Beranjak dewasa, tepatnya ketika kuliah dan diharuskan tinggal di kota besar, aku seperti kegirangan dengan keleluasaan akses mendapatkan buku. Aku bisa pergi ke toko buku kapan saja. Aku bahkan mencari tempat penyewaan buku yang waktu itu masih menjadi primadona para mahasiswa. Buku pertama yang kubeli saat kuliah adalah "The Lost Hero" karya Rick Riordan. Itulah yang menjadi perkenalan pertamaku dengan sang penulis dan sampai sekarang aku berusaha untuk membaca semua buku-bukunya.

Hal yang kusebutkan di atas membuatku bersyukur kini aku bisa mendapatkan akses kepada bahan bacaan semudah membuka gawai. Semakin banyak buku yang kumiliki, semakin aku merasa cinta terhadap mereka. Walaupun hampir sebagian besar simpanan yang ada belum kubaca sama sekali, aku tetap bangga. Bahkan saat seorang rekan kerja menanyakan sebagian besar pendapatanku kuhabiskan untuk apa, aku dengan bangganya menjawab buku.

Menurutku, seseorang yang mencintai pasangannya akan melakukan segala cara agar mendapatkannya dengan segera. Setelah itu, ia akan menjaganya sebaik-baiknya. Ia akan mengorbankan apa saja untuk tetap bersama dengan pasangannya karena, yah, ialah belahan jiwanya. Begitupun aku dengan buku. Aku yang hidup nomaden ini selalu membawa timbunanku ikut serta. Bahkan bisa dibilang memindahkan buku-bukuku lebih merepotkan ketimbang barang-barang lainnnya seperti pakaian.

Pada akhirnya kecintaan terhadap objek hobi merupakan bagian dari kecintaan pada hobi itu sendiri. Bila kamu hobi melukis, kamu akan membeli banyak kuas dan juga *easel* tapi tak luput untuk merawatnya. Bila kamu suka main *skateboard*, kamu akan memiliki koleksi skateboard dalam berbagai warna dan bentuk. Bila kamu suka olahraga lari, kamu sudah pasti memiliki banyak sepatu lari yang bermacam-macam merek dan fungsi. Begitupun dengan membaca, kamu akan memiliki banyak koleksi buku. Dan kamu tidak akan pernah puas dengan koleksimu itu sehingga kamu akan terus menginginkannya. Kalau kamu, seberapa besar cintamu pada membaca?

Dan jawabanku adalah sebesar timbunan buku yang ada di toko buku. Hahaha... Kalau jawabanmu apa?

Memang benar sih yang dikatakan kak Raafi, bila sudah cinta dengan sesuatu maka kita akan rela melakukan apa saja demi kecintaan kita itu. Seperti kak Raafi yang rela menyisihkan uang jajannya dan berpatungan dengan seorang teman untuk bisa membeli sebuah buku. Salut deh. Aku pun mengalami bagaimana akses untuk membeli buku tak segampang sekarang. Semoga semakin mudahnya akses mendapat bahan bacaan, semakin besar juga kecintaan kita akan membaca. 











GIVEAWAY TIME!

Aku dan Kak Raafi sepakat untuk memeriahkan event BBI Share the Love 2017 dengan mengadakan giveaway. Kami memberikan voucher buku senilai total 150 K untuk dua orang yang beruntung menjawab dengan pertanyaan yang akan kami berikan. Berikut rules-nya:
  • Follow akun Twitter @raafian dan @nAshari3 dan @BBI_2011
  • Bagikan tautan giveaway ini dengan mention akun Twitter di atas dan gunakan hashtag #BBISharetheLove.
  •  Berikan komentar atau respons tentang pos artikel ini pada kolom komentar di bawah.
  • Tebak novel yang kudapatkan dari Kak Raafi dengan petunjuk ini: 
  1. Bergenre Thiller-Mystery
  2. Penulisnya seorang wanita
  3. Salah satu Wishful Wednesday-ku
  • Cari tahu juga petunjuk novel yang kuberikan kepada Kak Raafi melalui tautan ini.
  • Lengkapi isian pada Google Form BBISharetheLove-Raafi-Sharie
  • Giveaway ini berlangsung sampai 20 Februari 2017 hingga pukul 24.00 WIB.
  • Giveaway ini terbuka untuk umum dan memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

GOODLUCK


24 komentar:

Ulfa Yusfia mengatakan...

seberapa besar cintaku pada buku? Huhu jadi malu kalau ditanya gitu, soalnya aku ini mash tergolong newbie atau masih junior dalam hal buku, hehe. Biasanya sih suka baca kalau ada buku, tapi kalau misal gak ada buku *buku yg dipinginin gitu misal* aku belum bisa buat berusaha cari-cari, apa lagi sampe pergi ke warnet segala *salut sama kak raafian*. Jadi prinsipku itu: mau baca buku kalau ada buku, kalau gak ada yaudah gak apa-apa. Huhu mohon maafkan, yg pnting saya berusaha cinta buku. Semua itu butuh proses. Hehe, termasuk proses untuk mencintai buku.

laili umdatul khoirurosida mengatakan...

Kok yang aku pikirin malah buku bukunya roberth galbraith yaa ? duh bener ga ya bener ga yaaa wkkwwk
Aku udah baca blog rafi belum nemu clue aaaw

Lina Ernawati mengatakan...

Sebenarnya aku suka membaca buku sejak kecil, tapi yaa hanya membaca buku pelajaran. Baru mulai aktif membaca lagi setahun terakhir ini. Btw pengalaman beli buku online patungan cukup menggugah hati ya, perjuangannya lumayan loh ๐Ÿ˜‚ aku belum pernah senekat itu, karena dulu ibuku melarang keras untuk membeli novel. Aku anaknya terlalu penurut ๐Ÿ˜‚

Dini Auliana Putri mengatakan...

Wah perjuangannya kak Raafi patungan buat beli novel patut diperhitungkan juga. Aku beli novel pertama kali waktu kelas 1 SMA itupun karena kebetulan ada bazar buku didepan perpustakaan didaerahku. Pulangnya langsung dimarahin sama mama. wkwk

Putrinatalia Munthe mengatakan...

Kalo Raafi patungan, kalo aku cara biar bisa baca buku itu pinjam perpus sekolah dan beli buku bekas di tk loak... Bersyukur sekarang dah bisa beli buku yg masih disegel.

Arfina Tiara mengatakan...

Patung garam ,kah?qwkwkwk

Yuki Hikari mengatakan...

Kayaknya emang uda bakatnya yang suka buku koleksinya nggak habis-habis.
Padahal aku juga banyak buku yang belon dibaca, eh malah kepincut baca buku baru xD

Aku awal suka baca pas SD setelah bisa baca kali ya. Ada temen yang koleksi komik donal bebek, aku bisa puas-puasin pinjam.

Kitty mengatakan...

Wah hebat bener Raafi baca Toto-chan sejak TK!!! *acung 2 jempol*

Anak sulungku juga sudah mulai bisa baca sejak 3 tahun dan sejak itu selalu nagih baca buku tiap hari! Untungnya perpus sekolahnya lumayan lengkap jadi bisa menghemat budget belanja buku.^^ *emak-emak irit*

Kalau dulu perkenalan pertamaku selain buku2 dongeng bergambar karya HC Andersen, sekarang ini anak sulungku sudah melahap berbagai buku anak berisi berbagai informasi menarik seputar: Body Antomy, Solar System, Climate, Earth Disaster, etc!! Aku sampe amazed liat betapa hausnya dia akan buku2 dengan tema yang lumayan berat ^^. Semoga saja kegemarannya membaca ini bisa terus bertahan sampai dia dewasa kelak.

Dan ya... aku setuju dengan pernyataan Raafi kalau sudah cinta pasti apapun akan kita lakukan, termasuk kecintaan kita terhadap buku ^^

Alfath Bookreader mengatakan...

Sebesar apa rasa cintaku pada buku? Tak terbatas. Karena saya orangnya 'kepo' dan suka ngubek2 sesuatu, misal lemari mbah saya yg penuh buku tuanya (saya juga cerita ini di komentar blog mas Rafi :D) merupakan "harta karun" bagi saya. Jadi sebesar rasa ingin tahu saya akan sesuatu, atau hal2 yang ingin saya tahu tapi belum tentu ada "orang ahli" di sekitar saya, atau bahkan sekedar mencari "hiburan" untuk tahu bagaimana topik tertentu "berbumbu" drama, di kondisi itu lah saya masih memerlukan buku/bacaan.
*btw keren ya Mbak Sari, udah dapet hadiah dari mama novel misteri waktu kecil. Duh..aku mah kagak boleh beli bacaan di luar pelajaran, kecuali waktu SMP tahun akhir saya bisa pinjam di rental komik dan novel. Baru setelah menua (??) bisa beli sendiri. Wah jadi curcol juga di blog ini XD
Eniwei, salam buat mamanya ya mbak. Daebak!! :)

Septy anggita mengatakan...

Wahhh aku juga suka baca dari kecil tepatnya SD kelas 5. Sejak saat itu aku selalu jadi juara kelas. Karna hobi baru stok lama ini aku senang. Skrg udh SMA kelas 2 yg mau naik tingkat ga sempat buat baca2 fiksi lagi karna kurang waktu harus ngerjain pr yg superduper banyak. But, read is my passion❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Suci Ramadhan mengatakan...

Samaaaaaa kayak mas Rafi. Sewaktu SD, akses bukuku cuma di perpustakaan SD yang isinya rata-rata cerita anak-anak terbitan tahun 60-90an. Buku-buku lawas haha. Di SMP, koleksi perpusnya lumayan. Tapi SMA ngga ada perbaikan. Sewaktu kuliah ini, baru, dapet akses lebih banyak ke buku. Bisa beli online, atau ke toko buku. Soalnya, di tempat tinggalku ngga ada toko buku sih. Dan terpencil lagi, hehe.

Elsita Fransiska Mokodompit mengatakan...



​Namanya membaca memang akan selalu jadi hal paling indah yang bisa dirasakan kutu buku. AKu juga senang banget membaca sejak kecil tapi karena perseidaan buku di rumah terbatas pada majalah bobo, buku bahasa Indonesia SD yang punya segudang cerita sarat pesan di dalamnya dan buku-buku kakek aku yang semuanya bacaan politik, ekonomi dan kawan-kawannya akhirnya itulah yang aku baca, Sekarang bersyukur banget bisa menikmati hobi ini dengan fasilitas yang lebih memadai​

Rhena Indria mengatakan...

Waktu kecil pun aku ga ada akses banyak untuk baca buku. Buku yang sering aku baca gak jauh jauh dari majalah Bobo, itu pun bukan aku yang langganan sih. Cuma suka cari cari majalah Bobo bekas di pasar buku. Hehe.

Rico Martha mengatakan...

seerapa besar kecintaanku pada membaca? sebesar eh sebanyak timbunanku. whahahahak. beneran deh, seorang yang memang sungguh hobi membaca buku basti terjangkit kebiasaan menimbun buku ini. apakah hal itu salah? saya rasa tidak. yang penting kan dibaca (entah kapan). muehehehe.

Eni Lestari mengatakan...

sebesar apa kecintaanku akan membaca? sebesar saldo ATM-ku yang makin mengecil aja gara2 demen beli buku online, hahaha. btw sama nih aku juga banyak mengalokasikan duitku ke buku. aku juga heran, padahal kalo sama hal lain aku sok2 miskin dan ngakunya gak punya uang. tapi kalo sama buku kok ala2 horang kayah aja tanpa sadar dibeli aja wkwkwk. tapi ya udah kadung cinta mau gimana? kalo emang cinta harus berkorban sih. yah dalam hal ini sasarannya ATM xDDD

ambudaff mengatakan...

Hai kak Shari, salam kenal!

Mau komen tentang 'seberapa besar cintamu pada membaca?'

Saya tak cinta membaca. Saya butuh membaca. Kalo sehari aja ngga membaca, gatel-gatel deh xDD

rini virgo mengatakan...

Hmm, sebenernya aku bingung mau nulis apa. tapi mungkin aku bisa nulis kisah my first book at sigh--pandangan pertamaku tentang buku.
Aku tertarik baca buku tuhsejak SD, baca buku anak, terutama cerita rakyat sama dan dunia disney. Kalau mulai nyoba baca novel sih pas kelas 2 SMP gara-gara nemu novel di perpustakaan. Nah sejak saat itu aku jadi seneng banget ngunjungi perpus, pinjem bukunya, terus juga ketagihan pergi ke gramed, entah beli buku atau cuma nebeng baca doang. Akhirnya yang ku tahu Asyik juga ternyata baca buku. Yah, mungkin begitulah pandangan pertamamu ketemu buku sampai hobi baca. Gak spesial sih kalo menurut sudut pandang orang lain, tapi buatku baca buku itu sama dengan memupuk ilmu, menambah pengalaman, dan membuka jendela dunia.

Insan Gumelar Ciptaning Gusti mengatakan...

Cintaku pada membaca sebesar jagat raya, setinggi langit dan sedalam samudra~

Aku bukan cinta tapi aku suka membaca.

Cahya Widyastutik mengatakan...

Aku suka membaca. Suka sekali.
Tapi akhir-akhir ini mood membaca entah lari kemana, disamping waktu yang kian menipis buat membaca. Alhasil ya jadinya begitu, tumpukan buku makin menggunung.
Peraturan--baca 2 buku, baru boleh beli 1 buku-- yang kuterapkan pada diri sendiri cuma sekadar wacana semata. Apalagi dengan terbitnya buku-buku bagus yang bikin mata kinclong.
Ahh yang penting punya buku dulu ya. Hahaa

Heryani Syafitri mengatakan...

Wah kalau baca ceritanya Raafi yang sulit mendapat akses buku bacaan, aku merasa sangat beruntung karena dari kecil dikelilingi orang yang suka memberi kado berupa buku. Bapak, Ibu dan para Tante dan Om suka banget beliin buku :D Kalau ditanya seberapa besar cintaku pada membaca, aku ga tau hahaha yang jelas setiap hari aku pasti baca, walaupun berupa artikel di internet, enggak selalu berbentuk buku :)

Humaira Balfas mengatakan...

Kalo aku sebanyak giveaway yang ada dan kesempatan dapet buku gratis cuma-cuma. Ya itu semua karena budget ku yang minim, dan aku lebih sering ngumpuling uang dulu baru beli buku sekaligus beberapa buku barengan sama adik. Soalnya di kotaku ga ada toko buku, jadi aku cuma ngandelin toko buku online dan hadiah buku gratisan. Tapi aku cuma mengikuti giveaway buku yang benar-benar aku inginkan, biar bukunya ga mubazir. Aku dapet tapi aku anggurin kan sayang banget.

Enaknya, kelebihan bisa baca lebih cepat dibandingkan anak kecil yang lain. Dan surat yang diberikan pada kakek, ternyata masih disimpan sampai sekarang, benar-benar menyentuh.

Kelak ketika aku punya anak, aku ingin mengenalkan mereka pada buku dan cerita-cerita sejak kecil. Agar terbiasa, bagiku bisa itu karena terbiasa :)

fasiha fatmawati mengatakan...

Ah.. aku suka bagian kak Raafi bilang ini:
"Menurutku, seseorang yang mencintai pasangannya akan melakukan segala cara agar mendapatkannya dengan segera"

Setuju banget deh.. aku juga gitu.. saking banyaknya buku yang pengen dibeli,,samppe ngumpulin receh buat nambah... wkwkk
Anyway.. jadi inget kata dosen..
Lebih baik uda punya bukunya tapi nggak dibaca daripada pengen baca tapi nggak punya.
*wkwk. tentu saja dalam konteks buku referensi kuliah :D :D

nunaalia 79 mengatakan...

Cerita masa kecil Kak Raafi yg suka membaca baliho, spanduk, dll yg ditemui di jalan-jalan mirip dengan pengalamanku dan adikku saat kami kecil. Setiap diajak mama & papa jalan-jalan kelaur, pasti kami membaca tulisan-tulisan yg kami lihat di sepanjang jalan.

Semasa sekolah, mungkin hanya buku pelajaran yg kubaca. Namun setelah bisa punya penghasilan sendiri, aku mulai sering membeli buku-buku yg kusuka, membaca dan mengoleksinya. Aku juga termasuk orang yg begitu menjaga buku-buku milikku. Kadang kalau buku-buku itu rusak karena dibaca orang lain, aku kesal banget, dan kapok untuk meminjamkan lagi hehehee

Membaca buku buatku adalah momen saat aku bisa masuk ke dalam dunia lain dalam cerita, dunia yg mungkin belum pernah aku alami dan ketahui. Sangat menarik, seru dan asik. :D

Rani Daiki mengatakan...

Aku juga sudah mulai membaca sejak kecil. Sama kaya ka Raafi, kebetulan aku sudah bisa baca disaat anak-anak lain belum bisa. Itu mungkin faktor ibuku yang rajin banget baca buku dan gemes supaya nularin anaknya suka baca buku. Tapi, berbeda dengan ka Raafi,aku berada di lingkungan yang orang orangnya gemar membaca, jadi aku juga ketularan dan terbiasa membaca sejak dini dan sampai sekarang pun aku masih sangat suka membaca.

Wishful Wednesday [9]

Wah, nggak terasa ya sudah sampai di hari rabu terakhir bulan Maret. Yipiiee... sebentar lagi gajian. Upz! Aku lagi ngincer dan mupeng ...